CERPEN "SATE KERANG SANGKAR KENANGAN"


Karya  : Devy Kumalasai
"Sate Kerang Sangkar Kenangan"
-
-
Tanah ombak, debur di tubuhnya mengapit sebuah kenangan. Perahu-perahu berbaris di bibir pantai bersama peluk jangkar ialah harapan segala nafas. Kedai-kedai, gerobak, berjajar sepanjang jalan setapak, setiap hari bersorak melalui aroma yang mendidihkan ludah. Menarik para turis untuk segera temani bangku-bangku yang haus akan uang. Inilah yang senantiasa kurindu, di atas pepori lautan, jaring-jaring hijrah terlempar para nelayan. Mengais, merayu ikan-ikan untuk berjumpa dengan padang udara. Serta sendalu, sang benang-benang udara yang disulam oleh-Nya. Keindahan panorama pantai yang talu kunjungan para turis menjadikan daerah kampung kami bermata pencaharian nelayan dan pedagang kuliner khas laut.


**********
Liat, lembab, merangkak kau di pelupuk hari. Balutan pasir laut pada kaki tak menjerembab hasratmu untuk menjemput karang-karang yang bertebaran di sana. Wajah dan tubuhmu berpeluh anyir, tanganmu menderu gurisan kulit kerang, berdarah-darah hingga merelung tajam. Bagimu, laut tempat menyusu, kerang tempat mengadu lapar. Tak sama dengan sebagian warga lain, mengadu lapar pada rebahan jaring di lambung samudera yang memagut ikan-ikan. Baru kupijakkan pandanganku dalam satu padu binar matamu, sejenak pelupuk matamu membeku lantas kau memburu gusar, membuat wajahmu berpaling kasar.
"Aku kira kau akan biarkan cangkangmu jila selamanya."
"Apa maksudmu?" Tanyaku sembari mendekat padamu.
"Tiga tahun kau tak kunjung pulang ke tanah ombak, Bukankah kau sempat berjanji mengunjungiku setiap tahun?" Gundukan air di pelupuk matamu mengguyur pipi, nian bergeming meniti jejak kulit kerang yang masih membekas.
"Maaf, Karti, setahun lalu aku belum boleh pulang oleh atasanku." Ungkapku sayu, meyakinkanmu, kau tampak iba seketika namun tetap bergeming.
“Maaf, aku sekedar salah dan sanggup utarakan maaf oleh lidah.”
Tertunduk malu kau sejenak tersenyum renyah sembari menggeleng. Sebab pasti telaga kerinduan yang lalu meluap membanjiri dadamu akhirnya terlipur, begitupun aku.
“Mampir ke rumah mas, aku siapkan sate kerang, mungkin setelah tiga tahun lamanya kau tak kunjung pulang, mas telah lupa cita rasanya.”
Sesungguhnya sate kerang sekedar ku rindu hadirnya lantaran kau, bukan untuk menyusuri dinding-dinding lidah dan kerongkonganku. Sekedar kudaratkan senyum pada wajahku sebagai jawaban tentang tawaranmu.

**********
Pintu rumah itu tampak ringkih, aus mencamar tubuhnya. Bau-bau asap dan anyir meriung membentur rongga-rongga hidungku. Dahulu, Karti, tujuh tahun lalu tepatnya, bau-bau sedap di santap nun menggiurkan senantiasa menyapa tetamu. Aneka kuah, ikan, bumbu-bumbu menjadi satu-satuan masakan khas, bahkan bermacam-macam. Saling adu bicara untuk luluhkan ludah para wisatawan di tanah ombak ini.
"Yung, ada mas Fajar." Ibumu tampak rapuh, dibopong kursi anyaman berbalut bantal lusuh.
Ada adikmu pula kala itu, yang sedang mengibas asap di atas pemanggang.
"Yung?" Kuraup segera telumpup tangan ibumu sebagai ungkapan rindu. Jemarinya tampak pikuk, tidak seperti dulu sebelum aku merantau ke ibu kota. Ada apa dengan ibumu?
"Bapak belum pulang dari Taiwan?"
"Belum mas." Adik perempuanmu kemudian datang memelukku, perbedaan Satu tahun angka kelahiranmu dengannya tidak sedikitpun kemiripan yang menonjol seperti laiknya saudara kandung yang lain. Ah.. Lupakan.
“Kami kaum perempuan tak sanggup melaut, nelayan suruhan bapak juga enggan membantu kami. Sekedar kerang kami mengadu lapar."
Ayahmu berprestasi unggul, pencetus bermacam resep masakan, hingga suatu ketika beberapa turis luar negeri pelanggan kedaimu, mengajak bekerja sama melalui kuliner.
"Bagaimana kabarmu jar?" Tanya ibumu dengan suara terseok-seok.
"Baik yung. Yung sendiri bagaimana?"
"Ya begini jar." Singkat nun membingungkan ungkapan ibumu. Karti, ibumu kenapa? Tanyaku melalui mimik wajah. Kau meletakkan kendil berisi kerang yang kau bopong sedari tadi dan segera menggendong ibumu ke kamar tidurnya. Ibumu terserang lumpuh lantaran sempat terpelanting dari tebing pintu air seusai ia mencari ikan dan kerang pada muara. Kejadian itu sudah satu tahun lalu tepatnya. Seusai adikmu tamat SMA jikalau pendidikan masih ia kenyam dari kelulusan tingkat sekolah dasar. Kedai tempat keluargamu mengais rezeki dahulu, rupanya kini enggan meneriaki pelanggan. Bau-bau aneka masakan laut yang teramat menggoda kini terpasung oleh bau asap dan anyir. Sate kerang ini pun pertamakali kau tau resep itu dari tetangga.
"Lalu resep dari racikan ayahmu?" Tanyaku Kau menggeleng. Aku terdiam. Pantaslah, dahulu sebelum ayahmu pergi, kedai itu senantiasa jaya, tak sedikit orang melirik dan berharap mengetahui resep-resep darinya. Meski begitu, ayahmu mengatup rapat-rapat tentang resep masakan yang ia miliki.
"Lalu yung dianggap siapa?" Isakmu. “Lebih mahalkah sebuah resep dibanding keluarga sendiri?" Aliran geram bergemuruh menyusuri atma. Pertanda nuraga dalam dirimu kepada ayahmu yang telah lama tumbuh subur perlahan gugur. Aliran itu perlahan meluap air mata ditindas kekecewaan.
"Kau tak ingin bekerja di tempat lain?" Tanyaku. Kau menggeleng. "Mengapa?" Kau menggeleng kembali.
"Aku tak bisa hianati ayah, dan tidak tau harus bekerja dimana."
"Kalau kau bersedia, kau boleh bekerja di kedai ayahku."
"Sepertinya aku tidak bisa." Memang sewajarnyalah kau bertingkah seperti itu. Sebab kau tak pernah tau. Ya, tak pernah tau.

**********
Pagi ini, mentari tampak semarak mengajak kaum lelaki bergegas melepas pagut jangkar. Menggiring sampan tuk berseteru bersama ombak, memapar jaring-jaring untuk menjemput ikan-ikan segar. Sementara kaum perempuan bergegas menangkup ikan-ikan yang terbujur kaku dan telah membaur dengan udara lepas di atas penjemuran dan siap mereka guyur dengan bumbu-bumbu yang aromanya sungguh meluluhkan ludah untuk terperanjak.
Ibu bilang malam ini akan ada perayaan seni tradisi di kampung kami, dan segera menyuruhku untuk bergegas mencari ikan. Sebelum melaut bersama ayah, aku meminta izin tentang ajakanku pada Karti satu minggu lalu, ibu enggan dan menerakan sebuah alas an.
“Bicaralah padanya ibu...” Pintaku. Dengan lidah kelu. Yang sesungguhnya ingin membius emosi.
“Rerumpun semak kan senantiasa tumbuh subur, meski kemarau berbondong mengancam, namun rantai waktu belum usai merakit ketepatan untuk ibu mengutarakan padanya, nak.”

**********
Dengan membasuh rindu akan tanah nelayan ini, sepanjang jalan setapak itu berjajar kedai-kedai serta gerobak-gerobak yang saling beradu aneka kuliner khas laut. Awan hitam legam tampaknya turut gemilang menikmati gempita kampung kami, pepohonan bersenda gurau bersama desau angin. Begitupun air laut berlomba-lomba menggapai ombak tertinggi.
Awan ria meriung perdu menghadiri berbagai seni tari, musik hingga teater yang di pertontonkan. Disambut riuh wisatawan serta penduduk desa kami, gemuruh tepuk tangan setiap pengunjung yang menghadirinya menambah gempita dalam merobek lengang malam.
Akupun turut membantu orangtuaku berjualan di kedaiku yang tengah sibuk dicumbui para pelanggan, tak ayal resep kalio cumi buatan ibuku sangat disukai, mulai aroma sedap yang menari-nari di atas mangkok siap pula mengajak lidah mereka berdansa dengan cita rasa yang memburu kenyang. Selain itu, kuah kental yang dihidangkan hangat ini menjadi anggapan bagi para pelanggan sebagai penuntas hawa dingin di pepori kelam malam. Entah mengapa aku teringat kau, kusempatkan langkahku menyusuri jajaran kuliner di sana hingga kutemukan kau.
Tetap kau yang sediakala, dengan penampilan sederhana cermin segala kecantikan hatimu. Sendiri, termanggu, ratusan pelanggan sekedar menyempar muka darimu. Hanya saja satu hingga tiga pelanggan hadir menghibur gerobakmu. Gerobak Pak Tomo di sisi kananmu, merebak kepul aroma khas gulai ikan yang menari-nari berpengiring mangkuk dan sendok garpu yang berdenting meriung perdu dilansir hasrat para pelanggan. Di sisi kirimu, Mbok Rah, dengan sajian cumi goreng tepung, yang hampir tak sempat duduk berpangku tangan. Rupanya menu hidangan Mbok Rah berhasil menjatuhkan bertubi-tubi rayu untuk berpelukan pada lidah para pengunjung. Kemudian di seberang ada pak Kardi, yang sedang bergulat dengan sudip dan wajan berisi nasi goreng udang, dipoles wajah berpeluh riang di setiap kubang pepori tubuhnya.
"Mas Fajar, mau beli?" Sumringah merekah di segala arah wajahmu. Belum sempat lidah merakit kata olehku. Kau yang sedari tadi terduduk lesu terperanjak menyiapkan hidangan sate kerang dari gerobakmu. Aku tersenyum pasi, terpaksa mengiyakan tanpa isyarat.
"Adikmu tidak ikut?"
"Sama yung di rumah." kau nampak lesu mengatakannya. Congkak sumringahmu lalu berlarian diterpa pertanyaanku. Sembari memandangku, wajahmu menyimpan resah nun gelisah.
"Ada apa, Karti? Kau ingin menerakan sesuatu?"
"Aku menyesal menolak tawaranmu itu, namun walau bagaimanapun, aku tetaplah menolaknya." Aku menelisik makna ungkapan di balik pandangan lesu dari putik mata yang kau tabur hingga meranggas dadaku. Sebaiknya jangan, gumamku, sebab betapa gusarnya ayahku jika melihatmu.
"Ini mas, uangnya lebih." Kau menyodorkan uang pemberianku.
"Ambillah." Balasku tersenyum.
"Ini bukan masakan ayahku dulu mas, jadi, tidak sepadan." Ingin sekali ku memelukmu dan kuutarakan, aku mencintaimu Karti, hasrat itu seolah terbendung tatkala ingatanku tertuju pada ayahmu.
Aku takut ayahmu di sana culas lantaran kebinalannya. Tujuh tahun lamanya tak kunjung menafkahimu, dan bisa-bisa menarik wanita lagi. Otakku kisruh bertambah koyak di dada. Lelaki itu membuatku geram. Namun bodohnya, ibuku sempat tergiur resep-resep rahasianya. Sulit kupercaya bahwa aku, kau serta ibuku ialah keluarga, satu rahim tempat seonggok daging dan darah kita bernaung, Itulah sebab ibuku tak menyetujui tawaranku padamu seminggu lalu. Ayahku yang telah mengetahui pasti gusar melihatmu. Namun, ayah ibuku tak lagi berkisruh lantaran resep dari ayahmu laku keras. Jadi, aku tau Karti, ayahmu tak menurunkan resep rahasia itu pada ibumu lantaran ibumu bukan ibumu. Bukan pula ibu adikmu. Sedangkan wanita yang kau sebut 'Yung' tak sanggup berikan keturunan untuk ayahmu. Kau adikku, kita seibu, lalu? Salahkah ku mencintaimu? Biarlah pada sate kerang ini kuutarakan ungkapanku yang sekedar sanggup bermuara pada lidah. Biarlah ia mengemu, tetas segala bungkam, hingga ia tau rebak kebisuanku ialah tentangmu. Biarkan akhirnya tajam pandangan tusuk sate kerang yang kusapih dari tubuh kerang hampir mengabu itu menelaah makna dibalik tajam berkaca-kaca di mataku, yaitu semua tentang cintaku padamu. Meski asap kemudian menyesakkan dada, namun sesak itulah yang tak terlupa, menyiksa selama tak jua terhembus kembali ke udara. Begitupun apa yang terjadi antara aku padamu. Apakah kau mencintaiku, Karti? Senda gurau yang cukup panjang kemudian membuat lidahku kelu.
Rupanya pengunjung mulai terhimpit larutnya malam serta lelahnya gegap panggung perayaan berjibaku dengan debur ombak. Aku memandangmu geming, berkaca-kaca. Kau nampak muram membisu.
"Aku esok harus kembali bekerja di ibu kota, Karti."
"Mengapa singkat kita bertemu mas Fajar?" Lirih suaramu. Kecewa. Meranggas dadamu.
"Apakah kau tak mencintaiku?" Tanyamu semakin merobek batinku. Seandainya rantai waktu tak semestinya membiusmu untuk merapal kalimat itu. Aku takkan berat ungkapkan yang sesungguhnya.
"Aku mencintaimu, karena kau adikku." Tumbang, kau juga aku.
"Aku amat berterimakasih bila kau esok kau bukakan pintu rumahmu dan berbicara dengan ibuku, agar kau tau semua yang terjadi." Aku berusaha menatapmu geming memohon di hadapanmu. Sate kerang membisu entah mengabu, asap dan anyir yang lalu meruap kini pilu. Terbasuh sendalu yang dingin kian terlalu. Kuharap samudera esok lepaskan sejenak peluknya dari mentari. Biarkan ia menyemburat rona jingga dan membiru langit, obati kecaman dingin selarut ini. Sebelum kemudian jingga kembali hadir di sisa pelupuk hari telah mengatup, kuingin kerang-kerang yang bertebaran di sepanjang bibir pantai sekedar mengguris kulit di tubuhnya bukan semakin merelung perih di hati sebab sesal kerang-kerang mengemu ungkapanku tatkala itu.

SELESAI


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN "SATE KERANG SANGKAR KENANGAN""

Posting Komentar