**********
Liat, lembab, merangkak kau di pelupuk hari. Balutan pasir
laut pada kaki tak menjerembab hasratmu untuk menjemput karang-karang yang
bertebaran di sana. Wajah dan tubuhmu berpeluh anyir, tanganmu menderu gurisan
kulit kerang, berdarah-darah hingga merelung tajam. Bagimu, laut tempat
menyusu, kerang tempat mengadu lapar. Tak sama dengan sebagian warga lain, mengadu
lapar pada rebahan jaring di lambung samudera yang memagut ikan-ikan. Baru
kupijakkan pandanganku dalam satu padu binar matamu, sejenak pelupuk matamu
membeku lantas kau memburu gusar, membuat wajahmu berpaling kasar.
"Aku kira kau akan biarkan cangkangmu jila
selamanya."
"Apa maksudmu?" Tanyaku sembari mendekat padamu.
"Tiga tahun kau tak kunjung pulang ke tanah ombak,
Bukankah kau sempat berjanji mengunjungiku setiap tahun?" Gundukan air di
pelupuk matamu mengguyur pipi, nian bergeming meniti jejak kulit kerang yang
masih membekas.
"Maaf, Karti, setahun lalu aku belum boleh pulang oleh
atasanku." Ungkapku sayu, meyakinkanmu, kau tampak iba seketika namun
tetap bergeming.
“Maaf, aku sekedar salah dan sanggup utarakan maaf oleh
lidah.”
Tertunduk malu kau sejenak tersenyum renyah sembari
menggeleng. Sebab pasti telaga kerinduan yang lalu meluap membanjiri dadamu
akhirnya terlipur, begitupun aku.
“Mampir ke rumah mas, aku siapkan sate kerang, mungkin
setelah tiga tahun lamanya kau tak kunjung pulang, mas telah lupa cita
rasanya.”
Sesungguhnya sate kerang sekedar ku rindu hadirnya lantaran
kau, bukan untuk menyusuri dinding-dinding lidah dan kerongkonganku. Sekedar
kudaratkan senyum pada wajahku sebagai jawaban tentang tawaranmu.
**********
Pintu rumah itu tampak ringkih, aus mencamar tubuhnya.
Bau-bau asap dan anyir meriung membentur rongga-rongga hidungku. Dahulu, Karti,
tujuh tahun lalu tepatnya, bau-bau sedap di santap nun menggiurkan senantiasa
menyapa tetamu. Aneka kuah, ikan, bumbu-bumbu menjadi satu-satuan masakan khas,
bahkan bermacam-macam. Saling adu bicara untuk luluhkan ludah para wisatawan di
tanah ombak ini.
"Yung, ada mas Fajar." Ibumu tampak rapuh,
dibopong kursi anyaman berbalut bantal lusuh.
Ada adikmu pula kala itu, yang sedang mengibas asap di atas
pemanggang.
"Yung?" Kuraup segera telumpup tangan ibumu
sebagai ungkapan rindu. Jemarinya tampak pikuk, tidak seperti dulu sebelum aku
merantau ke ibu kota. Ada apa dengan ibumu?
"Bapak belum pulang dari Taiwan?"
"Belum mas." Adik perempuanmu kemudian datang
memelukku, perbedaan Satu tahun angka kelahiranmu dengannya tidak sedikitpun
kemiripan yang menonjol seperti laiknya saudara kandung yang lain. Ah..
Lupakan.
“Kami kaum perempuan tak sanggup melaut, nelayan suruhan
bapak juga enggan membantu kami. Sekedar kerang kami mengadu lapar."
Ayahmu berprestasi unggul, pencetus bermacam resep masakan,
hingga suatu ketika beberapa turis luar negeri pelanggan kedaimu, mengajak
bekerja sama melalui kuliner.
"Bagaimana kabarmu jar?" Tanya ibumu dengan suara
terseok-seok.
"Baik yung. Yung sendiri bagaimana?"
"Ya begini jar." Singkat nun membingungkan
ungkapan ibumu. Karti, ibumu kenapa? Tanyaku melalui mimik wajah. Kau
meletakkan kendil berisi kerang yang kau bopong sedari tadi dan segera
menggendong ibumu ke kamar tidurnya. Ibumu terserang lumpuh lantaran sempat
terpelanting dari tebing pintu air seusai ia mencari ikan dan kerang pada
muara. Kejadian itu sudah satu tahun lalu tepatnya. Seusai adikmu tamat SMA
jikalau pendidikan masih ia kenyam dari kelulusan tingkat sekolah dasar. Kedai
tempat keluargamu mengais rezeki dahulu, rupanya kini enggan meneriaki
pelanggan. Bau-bau aneka masakan laut yang teramat menggoda kini terpasung oleh
bau asap dan anyir. Sate kerang ini pun pertamakali kau tau resep itu dari
tetangga.
"Lalu resep dari racikan ayahmu?" Tanyaku Kau
menggeleng. Aku terdiam. Pantaslah, dahulu sebelum ayahmu pergi, kedai itu
senantiasa jaya, tak sedikit orang melirik dan berharap mengetahui resep-resep
darinya. Meski begitu, ayahmu mengatup rapat-rapat tentang resep masakan yang
ia miliki.
"Lalu yung dianggap siapa?" Isakmu. “Lebih
mahalkah sebuah resep dibanding keluarga sendiri?" Aliran geram bergemuruh
menyusuri atma. Pertanda nuraga dalam dirimu kepada ayahmu yang telah lama
tumbuh subur perlahan gugur. Aliran itu perlahan meluap air mata ditindas
kekecewaan.
"Kau tak ingin bekerja di tempat lain?" Tanyaku. Kau
menggeleng. "Mengapa?" Kau menggeleng kembali.
"Aku tak bisa hianati ayah, dan tidak tau harus bekerja
dimana."
"Kalau kau bersedia, kau boleh bekerja di kedai
ayahku."
"Sepertinya aku tidak bisa." Memang sewajarnyalah
kau bertingkah seperti itu. Sebab kau tak pernah tau. Ya, tak pernah tau.
**********
Pagi ini, mentari tampak semarak mengajak kaum lelaki
bergegas melepas pagut jangkar. Menggiring sampan tuk berseteru bersama ombak,
memapar jaring-jaring untuk menjemput ikan-ikan segar. Sementara kaum perempuan
bergegas menangkup ikan-ikan yang terbujur kaku dan telah membaur dengan udara
lepas di atas penjemuran dan siap mereka guyur dengan bumbu-bumbu yang aromanya
sungguh meluluhkan ludah untuk terperanjak.
Ibu bilang malam ini akan ada perayaan seni tradisi di
kampung kami, dan segera menyuruhku untuk bergegas mencari ikan. Sebelum melaut
bersama ayah, aku meminta izin tentang ajakanku pada Karti satu minggu lalu,
ibu enggan dan menerakan sebuah alas an.
“Bicaralah padanya ibu...” Pintaku. Dengan lidah kelu. Yang
sesungguhnya ingin membius emosi.
“Rerumpun semak kan senantiasa tumbuh subur, meski kemarau
berbondong mengancam, namun rantai waktu belum usai merakit ketepatan untuk ibu
mengutarakan padanya, nak.”
**********
Dengan membasuh rindu akan tanah nelayan ini, sepanjang
jalan setapak itu berjajar kedai-kedai serta gerobak-gerobak yang saling beradu
aneka kuliner khas laut. Awan hitam legam tampaknya turut gemilang menikmati
gempita kampung kami, pepohonan bersenda gurau bersama desau angin. Begitupun
air laut berlomba-lomba menggapai ombak tertinggi.
Awan ria meriung perdu menghadiri berbagai seni tari, musik
hingga teater yang di pertontonkan. Disambut riuh wisatawan serta penduduk desa
kami, gemuruh tepuk tangan setiap pengunjung yang menghadirinya menambah
gempita dalam merobek lengang malam.
Akupun turut membantu orangtuaku berjualan di kedaiku yang
tengah sibuk dicumbui para pelanggan, tak ayal resep kalio cumi buatan ibuku
sangat disukai, mulai aroma sedap yang menari-nari di atas mangkok siap pula
mengajak lidah mereka berdansa dengan cita rasa yang memburu kenyang. Selain
itu, kuah kental yang dihidangkan hangat ini menjadi anggapan bagi para
pelanggan sebagai penuntas hawa dingin di pepori kelam malam. Entah mengapa aku
teringat kau, kusempatkan langkahku menyusuri jajaran kuliner di sana hingga
kutemukan kau.
Tetap kau yang sediakala, dengan penampilan sederhana cermin
segala kecantikan hatimu. Sendiri, termanggu, ratusan pelanggan sekedar
menyempar muka darimu. Hanya saja satu hingga tiga pelanggan hadir menghibur
gerobakmu. Gerobak Pak Tomo di sisi kananmu, merebak kepul aroma khas gulai
ikan yang menari-nari berpengiring mangkuk dan sendok garpu yang berdenting
meriung perdu dilansir hasrat para pelanggan. Di sisi kirimu, Mbok Rah, dengan
sajian cumi goreng tepung, yang hampir tak sempat duduk berpangku tangan. Rupanya
menu hidangan Mbok Rah berhasil menjatuhkan bertubi-tubi rayu untuk berpelukan
pada lidah para pengunjung. Kemudian di seberang ada pak Kardi, yang sedang
bergulat dengan sudip dan wajan berisi nasi goreng udang, dipoles wajah
berpeluh riang di setiap kubang pepori tubuhnya.
"Mas Fajar, mau beli?" Sumringah merekah di segala
arah wajahmu. Belum sempat lidah merakit kata olehku. Kau yang sedari tadi
terduduk lesu terperanjak menyiapkan hidangan sate kerang dari gerobakmu. Aku
tersenyum pasi, terpaksa mengiyakan tanpa isyarat.
"Adikmu tidak ikut?"
"Sama yung di rumah." kau nampak lesu mengatakannya.
Congkak sumringahmu lalu berlarian diterpa pertanyaanku. Sembari memandangku, wajahmu
menyimpan resah nun gelisah.
"Ada apa, Karti? Kau ingin menerakan sesuatu?"
"Aku menyesal menolak tawaranmu itu, namun walau
bagaimanapun, aku tetaplah menolaknya." Aku menelisik makna ungkapan di
balik pandangan lesu dari putik mata yang kau tabur hingga meranggas dadaku. Sebaiknya
jangan, gumamku, sebab betapa gusarnya ayahku jika melihatmu.
"Ini mas, uangnya lebih." Kau menyodorkan uang
pemberianku.
"Ambillah." Balasku tersenyum.
"Ini bukan masakan ayahku dulu mas, jadi, tidak
sepadan." Ingin sekali ku memelukmu dan kuutarakan, aku mencintaimu Karti,
hasrat itu seolah terbendung tatkala ingatanku tertuju pada ayahmu.
Aku takut ayahmu di sana culas lantaran kebinalannya. Tujuh
tahun lamanya tak kunjung menafkahimu, dan bisa-bisa menarik wanita lagi.
Otakku kisruh bertambah koyak di dada. Lelaki itu membuatku geram. Namun
bodohnya, ibuku sempat tergiur resep-resep rahasianya. Sulit kupercaya bahwa
aku, kau serta ibuku ialah keluarga, satu rahim tempat seonggok daging dan
darah kita bernaung, Itulah sebab ibuku tak menyetujui tawaranku padamu
seminggu lalu. Ayahku yang telah mengetahui pasti gusar melihatmu. Namun, ayah
ibuku tak lagi berkisruh lantaran resep dari ayahmu laku keras. Jadi, aku tau
Karti, ayahmu tak menurunkan resep rahasia itu pada ibumu lantaran ibumu bukan
ibumu. Bukan pula ibu adikmu. Sedangkan wanita yang kau sebut 'Yung' tak
sanggup berikan keturunan untuk ayahmu. Kau adikku, kita seibu, lalu? Salahkah
ku mencintaimu? Biarlah pada sate kerang ini kuutarakan ungkapanku yang sekedar
sanggup bermuara pada lidah. Biarlah ia mengemu, tetas segala bungkam, hingga
ia tau rebak kebisuanku ialah tentangmu. Biarkan akhirnya tajam pandangan tusuk
sate kerang yang kusapih dari tubuh kerang hampir mengabu itu menelaah makna
dibalik tajam berkaca-kaca di mataku, yaitu semua tentang cintaku padamu. Meski
asap kemudian menyesakkan dada, namun sesak itulah yang tak terlupa, menyiksa
selama tak jua terhembus kembali ke udara. Begitupun apa yang terjadi antara
aku padamu. Apakah kau mencintaiku, Karti? Senda gurau yang cukup panjang
kemudian membuat lidahku kelu.
Rupanya pengunjung mulai terhimpit larutnya malam serta lelahnya
gegap panggung perayaan berjibaku dengan debur ombak. Aku memandangmu geming,
berkaca-kaca. Kau nampak muram membisu.
"Aku esok harus kembali bekerja di ibu kota,
Karti."
"Mengapa singkat kita bertemu mas Fajar?" Lirih
suaramu. Kecewa. Meranggas dadamu.
"Apakah kau tak mencintaiku?" Tanyamu semakin
merobek batinku. Seandainya rantai waktu tak semestinya membiusmu untuk merapal
kalimat itu. Aku takkan berat ungkapkan yang sesungguhnya.
"Aku mencintaimu, karena kau adikku." Tumbang, kau
juga aku.
"Aku amat berterimakasih bila kau esok kau bukakan
pintu rumahmu dan berbicara dengan ibuku, agar kau tau semua yang
terjadi." Aku berusaha menatapmu geming memohon di hadapanmu. Sate kerang
membisu entah mengabu, asap dan anyir yang lalu meruap kini pilu. Terbasuh
sendalu yang dingin kian terlalu. Kuharap samudera esok lepaskan sejenak
peluknya dari mentari. Biarkan ia menyemburat rona jingga dan membiru langit,
obati kecaman dingin selarut ini. Sebelum kemudian jingga kembali hadir di sisa
pelupuk hari telah mengatup, kuingin kerang-kerang yang bertebaran di sepanjang
bibir pantai sekedar mengguris kulit di tubuhnya bukan semakin merelung perih
di hati sebab sesal kerang-kerang mengemu ungkapanku tatkala itu.
SELESAI


Belum ada tanggapan untuk "CERPEN "SATE KERANG SANGKAR KENANGAN""
Posting Komentar