CERPEN "KELAMBU NODA"


"Kelambu Noda"

Oleh: Devi Kumalasari


            Entah ringkih menyulutku pada jerih dalam menapak perantauan yang terselerak onak duri, sengai merebak. Ratap peluh yang mengucur meninggalkan kubang tempat sanggahannya, merebah ruah sekedar berusaha mempertahankan cengkeraman untuk tetap tinggal, namun nahas, terjang hilir sendalu mencekiknya. Sementara air mata gugur mengutarakan perasaan sanubari. Rintih kusapih dengan do’a, perlahan tunas kekuatan merekah di sela nestapa. Aku masih memiliki Allah. Meski wujud-Nya tak terdedah, tiada pusara sanggup benamkan ranum cinta ku pada-Nya. Percayalah Allah sutradara yang tiada tara! Benakku sendiri bergumam. Meski entah perih menyayat batin, gelimang duka membentur pulas, hikmah Nya akan mengobati. Ucapannya bertambah keras kurasa. Hanya dia yang mengertikanku, entah bagaimana rupanya, Lantunan kata darinya hanya bersiul laksana sendalu. Waktu tak mampu menerakan kapankah kali pertama ia hadir. Tertawa ku bersamanya. Menangis ku di belai oleh nasihatnya. Runtuh ku dibopong oleh semangat darinya.
            “Maaf, anda belum berhasil”. Kata-kata yang menderu acapkali kubuka pesan hasil pengumuman ujian di berbagai perguruan tinggi. Ini bahkan ke sembilan kalinya dalam satu tahun, untai kata itu tak bosan bersemayam di bawah tera namaku. Atau mereka telah bersahabat dan tak mau berpisah? Sudah banyak ku lalui saat-saat meniti bibir trotoar dan menyaksikan ingar lampu tera kota dengan ‘dia’, kesedihan berlanjut sadis ketika pembunuhan terjadi padaku, meski sekedar ucapan, melejit dan mendabik luka lama, teramat membunuh, kelambu raga kembali menjadi bahan tuntutan. Padahal kelambu ini berjasa besar dalam hidupku, menjaga harkatku sebagai perhiasan. Tak banyak orang memahami, tak banyak pula orang belajar memahami.
            Bukan lantaran ku salah memilih, memang awalnya aku hanya seorang ambigu dalam memihak keputusan. Pertemanan atau dalam hal apapun itu, mungkin ‘dia’ teman hidup yang lebih baik dari orang yang pernah kukenal. Bahkan dua insan, seseorang yang dahulu kunaungi rahimnya serta sang pencari nafkah hidup di keluarganya. Tak sedikitpun ku arungi tempat sanggahan hidup mereka. Hanya hidup di kalangan asuh palsu. Yang tak sepenuhnya tutur cinta darinya indah, bahkan tidak sama sekali. Perih. Pendidikan sanggup ku kenyam sebatas SMA dan dengan imbalan yang menyedihkan. Sungguh penuh celampak para lelaki tak asusila, merenggut nilai perhiasan dari dalam diriku.
            “Lari sejauh-jauhnya Fifi, aku akan membantumu”.
            Di kota lama itu, semua teman musnah dari hadapku. Siapalah yang sudi berteman denganku yang kotor. Hanya orang-orang yang kotor pula yang berani mendekat atau malah menyemburkan dirinya yang lebih kotor. Pasca hijrah pun semakin mereka musnah dengan gelak tawanya. Meski dengan kota baru yang ku singgahi. Pasti karena aku aneh! Aku tau itu, kekalapan amarah gemar mencumbuiku ketika memori perih itu memutar rekamannya.
            “Barang nya sudah di antar jeng?”. Alunan suaranya teramat manja dan terkesan menjijikkan di telinga. “Satu lagi jeng ini pesanannya nanti segera dikirim, biar pembeli tidak sungkan membeli lagi, oke?”
            “iya mbas, em.. mbak. Sudah saya kirim. Mungkin nanti sore saya segera ke butik dan mengantar lagi pesanannya”. Panggilanku kerap meleset pada si penelepon, pemilik butik ternama yang selama satu bulan ini membantu ku menggali nafkah setelah satu tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Entah lebih pantas dipanggil ‘mas’ atau ‘mbak’. Penampilannya pun membingungkan tak menunjukkan cirinya sebagai ‘mas’ atau ‘mbak’.
            “Semua barang sudah terjual seharga?”
            “Lima ratus tiga puluh lima mbak”.
            “Tidak dijual lebih ya? Oke, yang penting jujur”.
            Menunduk dengan penuh kekhawatiran di hadapan seorang yang saat itu meneleponku. Sedikit gugup dan gelisah, aku melipat-lipat jari kakiku. Tak mau ku sekedar melirik nya. Tepat ketika kebosanan untuk menindih leher dengan dagu, segera ku tuntaskan dengan menoleh ke kanan tanpa sengaja, yang sebelumnya tak pernah kucoba menatap pandang dengannya. Terpapar cermin yang menampilkan sesosok wanita yang mengikuti gerak-gerikku. Kami saling berpandangan. Ini yang ku benci! Ingin ku pecahkan cermin itu. Api yang datang dan pergi di balik kelambu ini sudah terpelihara lama. Sesaat ku pasrahkan jilatannya mengemu dadaku. Namun, kelambu ini membantuku mengabukannya, sungguh sulit kupahami tentang ku, masih terukir cemas di hati akan masa lalu yang perih berdarah. Lebih perih lagi berjibaku dengan masa lalu itu. “Lalu apa guna kelambu yang kau kenakan ini? Sampai udara pun tak sanggup menggetarkan rambut hidung dan sekujur tubuhmu?”. ‘dia’ menukikku dengan kekata yang tajam. Meracun ku hingga tersungkur.
            “Tolong…”. Desah ku dalam lelap yang mengapar. Kala kekalapan amarah berhasil mengabu.
            “Kau pasti butuh sholat”. Bisik lembut sosok lelaki yang terduduk sedari tadi menunggu ku sadar.
            “Aku tak tau sholat”.
            Tersenyum geli ia mendengarku. Aku tak mungkin salah menafsirkan makna di balik senyum itu, bukankah hal absurd untuk wanita sepenampilanku ini tidak memahami sholat?. Inilah ulah kelambu yang membekam erat aib ku, kehadirannya terkadang melukis tipuan dan terkadang melukis kebenaran. Beruntung aku berada pada lingkup negara yang menjunjung tinggi islam, dan mengikuti peradaban-peradabannya. Sehingga tak sampai ku enyah dari sini diterjang sepatu masyarakat. Meski sebagian dari mereka menginjakkan tapal sepatunya terhadap kelambu ini.
            Adzan segera bergemuruh menunaikan lafal indahnya, indah tak berarti aku mengetahui artinya. Hanya indah menurutku. “Bangun! Penuhi perintah itu Fi. Sangat bodoh, bebal kau!”. ‘dia’ kembali hadir dengan tukik pedas amarahnya pada ku.
            “Lalu bagaimana caraku? Kau tak bisa membantuku?”.
            Bungkam, lantas memalingkan topik pembicaraan “Dari mana ku mempercayaimu bahwa kau mencintai Tuhanmu jikalau kau tak sedikitpun berusaha mendekatkan diri pada-Nya?”.
            “Maafkan aku. Ajari aku Dree?”. Geming. Hening. Luruh satu persatu.
            Jarang ku bersenda gurau bersama masyarakat sekitar, bertegur sapa pun itu, mungkin sekedarnya saja. Apalagi terhadap lelaki, menatapnya pun tak sedetik, ya..kecuali bosku. Trauma ku sungguh lapang terhadap lelaki. Selain itu, Aku takut aib ku terbongkar, aku takut kepercayaanku pada mereka sia-sia terbakar. Bisa ku bayangkan betapa malunya ketika meminta bantuan pada mereka tentang hal ini. Watak bisu yang mendekap amat menyulitkan ku untuk mudah memberi  kepercayaan pada seseorang, selain ‘dia’ yang kupanggil Dree.
            Hanya berpagut kesendirian sepanjang waktu semenjak pelarian ku dari pengasuh palsu,  kekalutan hidup membalut, ditambah watak bisu di dalam diriku. Dree yang mendorongku untuk melampiaskan dengan hal yang sewajarnya. Menulis.  Dari bait per bait ku rangkai hingga membuahkan cerita, dari sanalah ku
beranjak untuk tuntaskan kekhawatiranku, di sebuah media sosial, ku torehkan guratan kata bermakna, ku semat berbagai kisah pedih ku yang amat mendarah daging  Ku lukis berbagai lambang bentuk tentang semua yang kurasa. Allah memberikan ku keberhasilan di luar dugaan, Ia pasti iba dengan keadaanku yang tercekam kesedihan ekstrim, sehingga surprise dari-Nya sempat kuraih pada dunia literasi, kejuaraan menulis tingkat nasional. Aku sanggup mengalahkan beribu penulis hingga penjuru negeri. Sekali, dua kali, berkali-kali, hingga gelar ‘kias karya’ mengawal nama ku.
            “Assalamu’alaikum ukhti…”. Suara yang lembut nan jernih mengalun dari ponsel ku. Dalam batin, aku terenyuh, sekaligus bertanya-tanya. Bukan lantaran siapakah dia tapi apa arti kata ukhti?.
            “Waalaikum salam, maaf dengan siapa ya?”.
            Saya Azza, dari Gejayan Yogyakarta, salam kenal, saya takjub membaca beberapa tulisan di media sosial ukhti. Kolaburasi bagaimana?”.
            “Maksud nya?”.
            “Begini saja, bagaimana kalau kita ketemu di kampus saya. Dekat dengan alamat ukhti kok, nanti saya kirim via sms alamatnya”.
            Pikiran ku melayang, dan hanya bungkam serta sanggup mengiyakan tawarannya. Lagi-lagi setan dalam pikiran menjerumuskanku. Tapi, benarkah dorongan untuk mengiyakan itu setan atau justru Dree? Hampir sulit ku membedakan antara bisik mereka. Terkadang mereka berbisik lembut dan terkadang memancing api untuk menyulut amarahku. Mereka yang senantiasa menggerakkan tingkahku, sementara hatiku, kosong, tak berdaya dan hanya menurut. Entah, aku mencoba terus mengikuti kemauan dan kemampuan otak kecil, dan jawaban iya kepada perempuan tadi kurasa tiada bersalah.
            Badanku gemetar lirih, menyaksikan kaki yang tengah berpijak di rute kampus, menyusuri anak tangga bersama salah satu mahasiswa yang baru kukenal. Mataku mengitari pemandangan gedung-gedung kampus yang kekar nan mengagumkan, ‘Universitas ternama’ bahagia rasanya berpijak di sini, hingga terbesit potret kekecewaan di tahun lalu, kala terakhir kali kegagalanku pada seleksi perguruan tinggi yang akhirnya melelehkan kebahagiaanku seketika itu juga.
            “Ukhti, perkenalkan ini teman saya, di jurusan sastra Indonesia”. Kami berjabat tangan dan bertukar senyum, meski senyum dariku hanya sanggup mereka lihat dari lipatan mataku. Sementara mataku masih berkeinginan untuk menjamah keindahan setiap sudut kampus. Semuanya. Menabjubkan menyaksikan riuh perdu mahasiswa. Riung tawa mereka menebar kebahagiaan. Pertemanan mereka tulus. Indahnya jalan hidup mereka, terbit senyumnya seolah melambai kearahku dengan ingar terpapar pada wajahnya, suatu hasrat yang lama melambung di langit angan.
            “Begini ukhti, kita akan mengikuti lomba menulis novel tingkat nasional, kita satu tim, saya, ukhti, dan bara. Hadiahnya untuk ukhti nanti bisa belajar di sini. Dan untuk kami, bisa sarjana tahun ini juga”.
            “Adik, tidak usah sungkan dengan kita, toh kita sudah saling kenal, dan berteman”. Sapa bara dengan sopan.
            Aku bisa belajar di sini hanya dengan memenangkan perlombaan itu? Ah, mudah-mudahan.
            Ternyata tak semua orang buruk, tak semua orang menjauhiku, masih terdapat mereka yang dapat ku percaya. Dari ucapan-ucapan mereka mengutarakan ketulusan hatinya padaku.
            “Lantaran mereka belum mengetahui keadaan mu sesungguhnya!”. Bisikan itu lagi-lagi memainkan api amarah dalam dadaku. Kali ini aku yakin bukan Dree yang tega mendabik kekata itu padaku.
            “Tahanlah amarahmu! Betapa bodoh dan memalukan jikalau kau semburkan di hadapan mereka!”. Ya, ini Dree, aku yakin aku bisa aku bisa mengendalikann….
            Tubuhku terdekap erat oleh seseorang kala kesadaran ku pulih, “ukhti..apa yang tengah kau pikirkan tadi hingga menjerit dan tiba-tiba pingsan? Ukhti belum sarapan?”.
            Wajahnya penuh rona kasih, sejuk di pandang, berseri, dengan kain yang membingkai pada lekuk wajahnya, mirip seperti sosok yang kulihat pada cermin sewaktu itu. Namun jauh berbeda melalui karakter mereka, yang ini begitu penyayang, ramah dan mudah berbaur dengan siapapun, serta sholehah, ‘perempuan sholehah sejati’. Karena pada hakikatnya, perempuan sholehah sejati tak hanya digandrungi oleh jilbabnya, tapi ia sanggup membalasnya dengan tasawuf yang mendalam. Yang kulihat di cermin itu… Ah, jauh berbeda. Penghianat. Penghianat kebaikan dan ketulusan jilbab yang membalut tubuhnya.
            Kali ini ku temukan sahabat yang sungguh setia, murni kecantikan hatinya, taat pada kaidah-kaidah islam, sholat untuk pertama kalinya berhasil ku tegakkan atas tuntunannya, ayat-ayat Al-Qur’an berhasil ku pahami bacaan serta maknanya. Hidupku lebih baik, lebih tenang, dan satu lagi lebih mudah memadamkan api amarah. Sekian lama ketidaksanggupanku untuk membedakan antara bisik ‘dia’ dan setan, kini reda, tak lagi tumbang akibat kebutaan antara bisik mereka. Aku merasa lebih dekat dengan Allah. Semalam suntuk sering ku lupakan tidur hanya untuk memohon kemenangan lomba itu, berdzikir, bermunajat, bersujud, berkali-kali. Al-Qur’an senantiasa ku baca, do’a-do’a mustajabah tak lepas dari genggam lidah ku di sela rengkuhan nafas.
            “Sebaiknya anda bekerja untuk membayar hutang-hutang anda”.
            Aku tak memperdulikannya, dan terus memanjatkan do’a di tengah jajaran sajadah yang merebah ruah di arena penuh lindungan Allah. Baru ketika tersadar, aku berusaha mengingat.
            “Sadarkah tentang hutang anda?”.Ia mengulang lagi ucapannya.
            Aku menoleh menghentikan dzikir panjang ku, lelaki itu lagi, yang tersenyum geli ketika mendengar jawabanku tidak tau tentang sholat.
            “Subhanallah, terkadang kita sendiri merasa bahwa kita adalah hamba Allah yang paling baik, sehingga kita percaya semua tingkah kita benar. Tetapi, dosa tetaplah dosa, sebelum anda sendiri bersikeras untuk menghapus dan memperbaikinya”. Ucapannya santai, halus, dibumbui dengan perasan senyum kasih di wajahnya.
            “Sadarilah! ”.
            “Itu kata-kata bodoh! Lihatlah! Tuhanmu tetap mencintaimu”.
            Aku bergidik, mendengar himpunan tiga suara tadi, dua suara bermakna kata yang sama dengan wujud yang berbeda, namun dua suara yang satu diantaranya tadi berasal dari wujud yang sama dengan makna berbeda.
            “Assalamu’alaikum”.
            Pintu rumah ku terhentak menayangkan kode dari seseorang yang meminta untuk ku segera membukanya. Terasa berat untuk meregang dekapan kaki dari sajadah, namun sesungguhnya sedikit lega ada ruang alasan untuk bebas.
            “Kak Azza…”. Aku memeluknya penuh kasih, sahabat nyata yang benar-benar menerimaku apa adanya, dan tulus membantuku untuk menjadi lebih baik. Kami saling membalas peluk dan senyum. Merasakan detak jantung kami berdegup senama. Kubiarkan mataku pulas terpagut pelupuk. Sesaat kemudian, pelupuk memaksa untuk meregang hingga mataku tertuju pada seseorang yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Azza. Ingar senyum memudar, terasa kram mendera wajah sumringahku kala itu.
            “Dek Fifi, perkenalkan ini Fahri,”. “Calon..” tambahnya sekedar berbisikdan mengerdip sebelah matanya sembari tersenyum malu-malu.
            Darah di sekujur tubuhku mendidih, dan terasa degup jantung sedikit lebih pelan. Tiada kata sanggup kuucap. Aku memandang lelaki itu sekali lagi, sholeh, sopan, penuh kasih. Ukiran wajahnya memanggul kejernihan hati. Tapi… kala pertama kali ku melihatnya di tempat kerja rasanya tak seberapa besar kagum. Meski setelah kami berteman sebagai rekan kerja, seolah tak saling kenal. Bahkan hampir tidak sama sekali berlibat bicara, hanya ketika itu saja, namanya pun baru saja ku dengar dari Kak Azza tadi. “Kau yang terlalu sombong!”.
            Dree memarahiku, oh, mudah-mudahan yang satu lagi tidak ikut berlibat bicara.
            “Dik, maaf sebelumnya kalau mengganggu, ukhti mengganggu ya?”.
            Diam dalam geram. Aku sekedar menggeleng kepala serta tersenyum renyah.
            “Novel kita hanya sebagai kontributor, tidak sebagai pemenang. Jadi… kuharap kau memahami”.
            “Ukhti… kenapa aku ini”. Pelupuk mataku memeras bulir-bulir air.
            “Kau hanya membutuhkan pengertian terhadap sekitar. Dan memohon ampun tentang masa lalu itu. Taat pada-Nya dengan ketulusan. Bukan lantaran mengharap imbalan. Yang juga menambah dosa akibat dusta terhadap sesama”.
            Bukan suara ukhti, tapi lelaki itu, mengingatkan ku pada seseorang yang hidup di lingkungan sama namun belum sempat kukenal. Mengajakku untuk lari dari kota lama. Seorang lelaki yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Berubah drastis penampilannya. Setelah lama berpisah meski di kota yang sama. Dia lebih cepat berhijrah dan mampu beradaptasi dari pada diriku. Kucoba memandang pilar-pilar di selaput mata nya. Ya, benar. Dia telah temukan kebahagiaannya. Dari hijrahnya hingga ia temukan jodohnya.
            Terjatuh lagi, mirisnya ketika menyibak isi dompet yang nilainya hanya sanggup penuhi kebutuhan hidup hari demi hari. Iniliah kehendak-Nya.  Dari pelarian ini, banyak pelajaran berharga yang ku tangkup, kesadaranku tergugah bahwa sebutan kain ini bukan lagi ‘kelambu’ sebagai tempat persembunyian. Akan tetapi,  jilbab sebagai bukti cinta kita dengan cara taat pada-Nya dan meraih cinta-Nya. Allah SWT.
Nganjuk, 28 Januari 2016
SELESAI

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN "KELAMBU NODA""

Posting Komentar