Puisi "Desember Berdarah"


DESEMBER BERDARAH
Karya : Devy Kumala Sari

Desember, yang masih bersahabat dengan hujan

Menumbuhkan bibit kerinduan

Yang perlahan merekah menukik langit

Aku masih buta di atas seluncuran kening hujan

Yang kemudian termaki

Sebelum kemudian sinar mentari yang lalu patahakan tersulam kembali

Oleh gumpalan-gumpalan awan pekat dan di atasnya diterbangi pesawat-pesawat

Menghujani dengan cahaya-cahaya kemerlip berdentam mengguncang bumi

Yang kemudian menghipnotis ibu, ayah dan kawan-kawan hingga tertidur

Hingga kini



Lambung lorong yang sempit menjadi kenyang akan manusia-manusia

Setidaknya meski aku sesungguhnya tak memesan lapar

Ibu, ayah dan kawan-kawan telah lengkap tanpa kamus berbahasa lapar

Setidaknya meski aku sesungguhnya tak memesan rasa sakit

Ibu, ayah dan kawan-kawan telah khatam dengan kamus berbahasa sakit



Di ranah yang mulai kempis

Terjepit dentaman-dentaman menjemput hempasan nyawa

Entah berapa kelok kodrat lagi dentaman mereka mulai iba

Mendera sesak yang tiadakala

Entah berapa lama menara oksigen di dalam kumelupakan hasrat serupa rindu

Yang meringkuk tak terpedaya

Adalah mampu melihat hujan dan langit tersenyum bahagia

Bersama ranah tempat menara oksigen di dalamku bersanggah

Kediri, Mei 2016

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Puisi "Desember Berdarah""

Posting Komentar